Minggu, 21 September 2014

CARA BERTANAM BUAH PEPINO YANG KAYA ANTIOKSIDAN

Buah PEPINO mungkin masih kurang dikenal luas saat ini, karena tergolong buah baru yang masuk ke Indonesia. Buah Pepino dari Indonesia bibitnya berasal dari negeri Belanda.  Nama pepino sendiri dari bahasa spanyol lengkapnya Pepino Dulce yang artinya Ketimun Manis.  Penulis baru tahu ada buah ini saat belanja ke supermarket dan di sana ada nama buah yang disebut Pepino.Pepino punya rasa unix mix antara ketimun, ubi dan melon.
Buah Pepino dikenal ampuh untuk obat berbagai jenis penyakit seperti sakit sariawan, diabetes, wasir, dan juga penyakit lainnya, dan harganya pun juga tidak terlalu mahal.   Nama ilmiah tanaman Pepino adalah Solanum muricatum dan dilihat dari namanya dengan mudah bisa diketahui bahwa tanaman pepino ini kerabat dekat dengan terung.  
Buah Pepino kebanyakan ditanam di dataran tinggi, meski bisa juga ditanam di dataran rendah. Tanaman pepino ini tidak tinggi dan bisa ditanam di dalam pot dan dapat menjadi penghias rumah yang antik.  Namun demikian tanaman pepino tidak berumur panjang, tiap satu tahun akan mati dan harus diganti.

Kandungan dalam Buah Pepino
Berdasarkan hasil analisa laboratorium uji teknologi pangan dan hasil pertanian UGM, pepino memiiiki kandungan air sebesar 95%, asam 79,3 mg per 100 gram pepino, beta karoten 26,6 mg per 100 gram pepino, vitamin C 25,1 mg per 100 gram pepino, protein 0,6 gram per 100 gram pepino,dan serat pangan 1-1,5 gram per 100 gram pepino.
Buah pepino juga mengandung serat pangan 1-1,5 gram per 100 gram.

Manfaat Buah Pepino
a. Pepino mengandung vitamin C dalam kadar yang tinggi, karena itu sangat cocok untuk mengobati sariawan, meningkatkan daya tahan tubuh, dan menurunkan tekanan darah. Vitamin C juga bertindak sebagai antioksidan untuk memperlambat proses penuaan (aging), menurunkan risiko penyakit jantung, dan kerusakan otak. Vitamin C juga sangat dibutuhkan untuk memproduksi kolagen yang penting bagi pertumbuhan dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Untuk mendapatkan manfaat vitamin C secara maksimal, konsumsi pepino dalam bentuk segar dengan cara dimakan langsung atau dijus.
b. Pepino mengandung betakaroten, terutama pepino ungu. Betakaroten merupakan provitamin A, yang dalam tubuh akan diubah menjadi vitamin A yang sangat berguna dalam proses penglihatan, reproduksi, dan metabolisme. Betakaroten juga dikenal sebagai antioksidan pencegah kanker. Betakaroten dapat menjangkau lebih banyak bagian tubuh dalam waktu relatif lebih lama dibandingkan dengan vitamin A, sehingga memberikan perlindungan lebih optimal terhadap munculnya kanker.
c. Pepino dipercaya dapat mencegah sembelit, wasir, gangguan pencernaan dan tekanan darah tinggi karena kandungan seratnya. Serat sangat dibutuhkan tubuh untuk menurunkan kadar kolesterol. Di dalam saluran pencernaan, serat akan mengikat kolesterol dan kemudian mengeluarkannya dari dalam tubuh. Serat juga berperan mengikat karsinogen pemicu kanker pada saluran pencernaan. Selain itu, serat pepino juga bermanfaat bagi penderita diabetes karena berperan mengendalikan laju gula dalam darah.



Cara Budidaya Pepino
1. Pembibitan
Pembibitan tanaman ini  dilakukan dengan cara vegetatif.  Hal tersebut dilakukan karena kemampuan germinasi biji pepino sangat buruk, sehingga seringkali tidak dapat tumbuh dengan baik, bahkan gagal tumbuh sama sekali.
Dengan cara vegetatif, tunas-tunas yang sudah ada calon akarnya dipisah dalam polybag dan diperlakukan khusus. Setelah disemai, tunas tersebut akan tumbuh menjadi tanaman lengkap dalam waktu 2 hingga 3 minggu.

2. Perawatan
Perawatannya pun cenderung mudah karena tidak terlalu banyak memerlukan air. Setelah masa tanam 1 bulan, bunga akan tumbuh.

3. Pengendalian Hama dan Penyakit
Musuh utama tanaman ini adalah ulat dan belalang pemakan daun. Pengendaliannya adalah pemberian pestisida organik.
Pengendalian terhadap gulma dan penyakit adalah pemakaian plastik mulsa.

4. Panen
Tiga atau 4 bulan kemudian, dilakukan panen pertama. Buahnya ada dua jenis yaitu berwarna putih bersih dan berwarna ungu, buah yang matang baunya harum (seperti melon). Sayangnya usia tanaman buah pepino ini, tak bertahan lama. Setelah mencapai 1 tahun, harus diganti dengan bibit baru.

Kamis, 18 September 2014

BUAH LANGKA CAMPOLAY aka ALKESA aka SAWO MENTEGA aka SAWO BELANDA aka KANISTEL

Buah yang satu ini namanya ilmiahnya adalah Pouteria campechiana sedangakan nama lokalnya banyak ada yang sebut Campolai, Alkesa, Kanistel, Sawo Belanda, Sawo Mentega dan nama lokal lain yang berbeda di lain daerah.  Buah Campolay disebut Sawo Belanda atau Sawo Mentega ini mungkin agak asing ditelinga kita karena memang termasuk tanaman buah langka di Indonesia yang tidak bisa kita dapatkan secara mudah.  Untuk bisa mencicipi buah campolay atau alkesa ini anda bisa ke daerah Bogor dan bandung Jawa barat.   Bentuk Buah Sawo Belanda ini Cukup lucu yaitu seperti telur dan meruncing pada salah satu ujungnya.
 Tanaman sawo belanda tidak mengenal musim, artinya berbuah sepanjang musim, mau musim hujan atau kemarau dia tetap saja berbuah.  Diduga buah sawo mentega ini berasal dari daerah amerika tengah tepatnya di meksiko kemudian menyebar keseluruh dunia. Dan di meksiko sendiri dikenal sebagai buah Canistel.


Buah Kanistel banyak mengandung kalori, zat tepung, vitamin, mineral dan serat. Bila dilihat dari tekstur buahnya, alkesa juga cocok dijadikan bahan baku selai, dodol maupun dikeringkan menjadi tepung sebagai bahan campuran cake, brownies, kue talam, cookies atau kue kering.  
Sawo Belanda atau sawo mentega ini telah dibudidayakan secara komersiil di banyak negara latin, seperti Nikaragua, Panama, Kuba.  Sekitar tahun 1915 buah yang satu ini dibawa dari Kuba ke wilayan Negara Filipina,dan ahirnya menyebar ke bagian lain Asia Tenggara,dan Filipina adalah termasuk Negara penghasil terbesar buah sawo mentega ini.
Daging buah sawo belanda ini berwarna kuning empuk seolah kering menepung,(hampir mirip dengan ubi cilembu) rasanya manis dan enak tentunya,aromanya sangat khas yaitu harum yang sangat menggoda selera,bijinya warna coklat mengkilat dan kulitnya sangat tipis.

Rabu, 03 September 2014

KEUNIKAN TANAMAN BAMBU CINA (Bambusa Multipleks)

Jika anda pernah menonton film silat cina semacam to liong to, atau pendekar rajawali ada adegan pertarungan di hutan bambu.  Kalau anda perhatikan bambu tersebut tumbuhnya satu batang satu batang saja, tidak berumpun macam bambu pada umumnya.   Tidak hanya itu saja bambu Cina yang nama ilmiahnya Bambusa multiplex ini ternyata punya cara tumbuh yang berbeda juga pada bambu lain pada umumnya. 
Bambu cina ditanam dengan bijinya dan uniknya tanaman Bambu  China hanya berbunga dan berbiji secara masal sekali dalam setiap 120 tahun sekali, namun jumlahnya sangat banyak dan mampu menutupi tanah dengan selimut bijinya.  Ilmuwan memiliki sejumlah teori tentang mengapa kemampuan khusus ini telah berkembang, dan salah satu hipotesis yang paling disepakati adalah bahwa tanaman bambu melakukan hal ini untuk membuat mustahil bagi hewan yang ingin memakan biji bambu sampai habis semuanya.

Tanaman bambu Cina (Bambusa multiplex) terkenal dengan kualitasnya yang sampai sekarang masih menjadi yang terbaik se-dunia. Bambu Cina sangat kuat dan tidak mudah dipatahkan. Ada yang unik tentang cara menanam bambu Cina. Petani bambu Cina harus menyiram bibit bambu Cina setiap pagi sebelum matahari terbit dan sore hari sesudah matahari terbenam. Selama 6 tahun pertama, setiap hari, penyiraman harus dilakukan dengan setia, kalau tidak maka tanaman ini tidak akan pernah tumbuh dan pasti mati. Jadi tidak ada hari-hari absen untuk menyiram atau tanaman ini akan mati dan tidak pernah tumbuh.

Maka si petani ini melakukan kewajibannya dengan setia selama 6 tahun pertama kehidupan si tanaman bambu Cina. Ia mengasihi tanaman ini dan sungguh-sungguh percaya, suatu hari ia akan bangga dengan tanamannya. Bagi orang yang tidak mengerti karakter dari tanaman bambu Cina, tentu akan mengira betapa gilanya si petani bambu Cina ini. Menyiram pot-pot yang tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Memang, tidak ada tanda-tanda kehidupan yang keluar dari pot-pot ini. Selama 6 tahun pertama, tidak ada yang tumbuh yang dapat dilihat dari permukaan tanah di pot tersebut.

Tetapi, sesudah tahun ke-6 berakhir, keluarlah tunas tanaman bambu Cina. Dalam waktu 6 bulan, tanaman bambu Cina ini akan mempunyai ketinggian sampai 20 meter. Ia menjulang lebih tinggi dari tanaman disekelilingnya. Hasil jerih payah anda akan terbayar dengan kepuasan yang tiada tara.  Karena selama menunggu tunas batangnya keluar 5-6 tahun itu Bambu Cina bukan tumbuh ke atas namun menumbuhkan akarnya terlebih dahulu, setelah akarnya kuat baru dia menjulang ke atas dengan sangat cepat.   Model pertumbuhan bambu cina ini mengilhami para filsuf tentang bagaimana menghadapi hidup, organisasi dan mengembangkan bisnis.  Konon, para pebisnis dunia seperti henry ford pernah mencoba menanam bambu cina ini.

Selasa, 12 Agustus 2014

CARA BUDIDAYA TIMUN SURI SECARA MUDAH

Timun Suri yang nama ilmiahnya adalah Cucumis lativus saat ini sudah banyak dikenal dan dikonsumsi masyarakat, meski demikian timun suri merupakan tanaman yang relatif baru di Indonesia.  Timun Suri bisa ditanam kapan saja dan tidak mengenal musim.  Biasanya timun suri ini dikonsumsi sebagai bahan minuman yang menyegarkan.  Timun Suri meski tawar namun berasa segar dan kaya akan kandungan mineral yang bermanfaat untuk tubuh.  Jika dulu dikenal blewah sekarang ada lagi timun suri untuk bahan minuman atau es buah yang lezat.  Timun Suri banyak manfaatnya dengan kandungan vitamin A yang tinggi, anti kanker, penyerap racun dan sumber energi.  Buah timun suri mudah dikenal dengan warnanya kuning dengan bentuk mirip timun namun berukuran lebih besar dan agak membulat.

Timun suri dikenal sebagai tanaman yang bandel karena meskipun hamanya seperti hama pada timun, tapi timun suri tetap bertahan dengan serangan hama-hama tersebut. Ketahanan timun suri pada hama  salah satunya disebabkan oleh keserampakan dalam pertumbuhan cabang dan tunas batangnya yang cukup banyak dan kokoh. Budidaya timun suri biasanya berkisar sampai 130 HST.

Buah timun suri bermanfaat dalam mencegah timbulnya kanker saluran pencernaan. Timun suri kaya akan provitamin A, berfungsi menjaga kesehatan mata dan sebagai antioksidan alami pencegah rusaknya sel tubuh  penyebab penuaan dini. Vitamin C di dalam timun suri juga tinggi, vitamin ini  mampu mencegah timbulnya ganguan penyakit flu dan inveksi karena sifat vitamin C dapat berfungsi sebagai anti virus dan pencegah infeksi. Selain vitamin, mineral esensial seperti kalsium, fosfor dan zat besi juga banyak terdapat di dalam timun suri.

Cara budidaya timun suri

Iklim
Adaptasi mentimun pada berbagai iklim cukup tinggi, namun pertumbuhan optimum pada iklim kering. Cukup mendapat sinar matahari, temperatur (21,1-26,7)°C dan tidak banyak hujan. Ketinggian optimum 1.000-1.200 mdpl.


Benih Timun Suri :
- pilih timun suri berukuran besar
- belah buah secara melintang lalu ambil bijinya
- jemur biji di bawah sinar matahari 2-3 hari hingga kering
- biji bisa disimpan dalam kotak selama 1 tahun
- sebelum ditanam biji dijemur lagi agar tumbuh baik
 

Cara Menanam :
- lahan dicangkul dan digemburkan
- buat bedengan 1.5 x 6 m. tinggi 30-40 cm. jarak 30 cm.
- diamkan selama 2-3 hari agar terkena sinar matahari
- lubangi lahan dengan tajuk berjarak 1x1 m. utk benih dn pupuk
- beri pupuk kandang 0.5 kg tiap tanaman
- beri pupuk NPK, SP36, dan KCL pada awal tanam 10 hr pertama

Penanaman dan Perawatan :
 

- masukkan 5 biji benih tiap lubang yang sudah diberi pupuk
- lakukan penyiraman tiap hari
- bersihkan gulma
- pindahkan bibit jika 1 lubang tumbuh lebih dari dua tanaman
- beri pupuk daun merek Gandasil 2-3 minggu sekali
- semprot pakai insektisida untuk membasmi kutu

Pertumbuhan :
- umur 21 hari keluar bunga
- umur 35 hari keluar pentil
- penyemprotan pupuk daun 2 hari 1 x
- penyemprotan pembasmi kutu dg Endrin 2 x seminggu

Panen :
 

- jika buah keluar getah dari pangkal berarti matang
- potong buah serta tangkai 2 cm
- panen pada pagi hari

Rabu, 16 Juli 2014

CARA BUDIDAYA WIJEN DI LAHAN KERING DAN BASAH

Biji dan minyak wijen sudah sangat akrab dengan kita dan secara tradisional telah digunakan oleh masyarakat kita dalam olahan makanan salah satunya yang terkenal adalah jajanan pasar onde-onde yang dikulitnya dibalut denga biji wijen.   Minyak wijen dikenal mampu mengikat kolesterol sehingga aman buat penderita kolesterol tinggi.  Meski sudah dikenal di Indonesia namun hanya beberapa daerah saja yang telah membudidayakan wijen secara komersial.  Secara alami wijen tumbuh baik di daerah tropis macam di negara kita.  Di supermarket minyak wijen disebut sebagai sesame oil.
Wijen yang nama ilmiahnya adalah Sesamum indicum L. diduga berasal dari benua afrika, tepatnya dari negara Ethiopia.  Tanaman wijen memiliki kandungan protein yang tinggi dan telah diidentifikasi seyidaknya ada 24 jenis tanaman wijen yang bisa dimanfaatkan.


Habitus dari wijen adalah sebagai berikut : 
Batang tegak, berkayu bertekuk empat, kebanyakan bercabang, susunan daun bawah, tengan dan atas antara spesies yang satu dan lainnya berbeda. Tinggi tanaman 0,5 hingga 25 meter, umur tanaman 2,5 sampai 5 bulan tergantung varietas dan kondisi tempat. Bunga muncul dari ketiak daun 1 sampai 3 kuntum per ketiak, warna putih dan ungu dan berbentuk seperti terompet. Penyerbukan biasanya terjadi dibantu oleh serangga dan kadang-kadang dibantu oleh angin. Buah memiliki panjang 2 sampai 3 cm dengan diameter 0,5 sampai 1 cm terdiri dari 4,6 dan 8 lokus(kotak) memanjang. Tiap lokus mengandung 50 hingga 125 biji per polong.

SYARAT TUMBUH

Iklim
Tanaman wijen dapat tumbuh didaerah tropika dan subtropika 35 drajat LU dan 45 drajat LS dengan Ketinggian 1-1.200 meter diatas permukaan laut. Sensitif terhadap suhu rendah, curah hujan yang tinggi, dan cuaca mendung terutama saat pembungaan. Suhu optimal 25 derajat-30 derajat C dengan cahaya penuh. Curah hujan 300-1000 mm, toleran terhadap kekeringan, tetapi tidak tahan tergenang wijen dapat tumbuh optimal dengan pada wilayah kering dengan 3 bulan basa.
Wijen termasuk tanaman hari pendek, sektar 7 jam per hari. Makin panjang hari, panen akan semakin cepat. Namun sudah banyak varietas yang dapat menyesuaikan diri di berbagai daerah yang bervariasi panjang harinya.( Soenardi.2005)
Komoditas ini kurang tahan ternaung, sehngga perlu dipikirkan bila bertanam secara campuran dengan tanaman lain. Terutama yang lebih cepat tumbuh dan tinggi daripada tanaman wijen. Meski pun demikian, tanaman ini dapat ditumpangsarikan dengan tanaman semusim lain.( Soenardi.2005)

Tanah
Tumbuh baik dan berhasil pada semua jenis tanah, tetapi yang terbaik pada tanah lempung berpasir yang subur dengan pH 5,5-8,0. Tanah dangkal dan tanah garaman kurang sesuai. Selain itu, wijen menghendaki drainase baik, karena wijen tidak tahan tergenag. Oleh karena itu, pada tanah berat saluran drainase seringkali diperlukan agar kelebihan air dapat segera dibuang.( Soenardi.2005)


TEKNIK BUDIDAYA
Pembenihan
Tanaman wijen berkembang biak secara generatif, yaitu dengan biji. Untuk memperoleh hasil yang tinggi, biji yang akan dijadikan benih harus berkualitas baik dan berasal dari varietas unggul. Biji yag baik untuk digunakan sebagai benih harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut,
1. berasal dari tanaman yang baik pertumbuhannya, berbatang atau berbyah banyak.
2. berasal dari buah yang sehat , tidak terserang hama atau penyakit.
3. bebas dari segala kotoran
4. utuh, tidak cacat atau luka. Biji yang cacat pada umumnya sulit tumbuh. Jika dapat tumbuh, biasanya mutu bibit jelek.
5. tidak keriput. Untuk memisahkan biji yang keriput,  biji direndam dalam air. Biji-biji yang tenggelam adalah biji yang baik,sedangkan biji yang mengambang adalah biji yang keriput.
6. tidak tercampur dengan varietas yang lain,Macam varietas yang digunakan perlu disesuiakan dengan tujuan pertanaman dan ketersediaan air. Mengingat masing-masing mempunyai kanopi dan umur yang berbeda. Bila jangka waktu ketersediaan air cukup panjang dapat dibudidayakan varietas dalam.
7. Benih diambil dari areal pertanaman yang seragam, sehat dengan daya kecambah lebih dari 80%. Kebutuhan benih untuk pertanaman monokultur sekitar 3-8 kg/ha, tergantung jarak tanam. Umur  tanaman berkisar antara 75-150 hari
Pengadaan benih dapat dilakukan sendiri atau dengan cara membeli. Pengadaan benih sendiri dilakukan dengan memilih tanaman yang sehat  dan berbuah banyak, kemuadian dipotong dan dipisahkan dengan tanaman lain(dari panenan keseluruhan). Selanjutnya, biji dibersihkan dan dijemur. Jika telah mengering, biji dimasukkan ke dalam botol atau kaleng, bagian atas dilapisi dengan abu agak tebal, dan ditutup. Wadah juga dapat berupa kantong plastik, asalkan dapat ditutup rapat.Pengadaan benih juga dapat dilakukan dengan cara membeli di toko-toko pertanian. Sebaiknya dipilih yang bersertifikat, yang lebih terjamin kualitasnya.( Anonymous.2012)

Penanaman Wijen di Lahan Kering/Tegalan
Wijen dapat ditanam atau dibudidayakan di tanah kering atau tanah tegalan. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam budidaya wijen secara intensif di lahan kering atau tegalan adalah pengolahan tanah, penentuan saat tanam, dan penanaman.
I. Pengolahan Tanah
Lahan atau kebun untuk menanam wijen perlu dipersiapkan dengan baik agar tanaman dapat tumbuh baik dan bereproduksi tinggi. Tanah untuk menanam wijen harus gembur, memiliki drainase (pembuangan air ) yang baik, memiliki bahan organik cukup, dan steril (bebas patogen). Untuk mendapatkan media tanamyang baik, tanah perlu diolah secara intensif. Pengolahan tanah yang kurang baik dapat menghambat pertumbuhan tanaman dan pembentukan hasil. Persiapan tanah yang baik dlakukan selama sekitar 60 hari.
Sebelum diolah, tanah diberokan selama 30 hari. Pengolahan tanah tahap pertama adalah membajak tanah dengan traktor atau dengan bajak yang ditarik oleh sapi atau kerbau, bertujuan untuk embalik tanah bagian dalam(lapisan bawah) agar terangkat ke permukaan. Tanah dibajak sedalam 40-60 cm, kemudian dibiarkan selama tujuh hari agar terangin-anginkandan terkena panas matahari. Dengan demikian, tanah akan mengalami desinfeksi secara alami karena akan terjadi proses oksidasi gas-gas beracun(asam sulfida) dan patogen (penyebab penyakit) akan mati, terutama golongan cendawan(jamur).
Pengolahan tanah tahap kedua dilakukan satu minggu kemudian. Pada tahap ini bongkahan-bongkahan-bongkahan tanah hasil pembajakan digemburkan dengan cara dicangkul tipis-tipis hingga tanah hancur dan menjadi remah(gembur), kemudian diratakan. Selanjutnya, tanah dibiarkan lagi selama tujuh hari agar terangin-anginkan dan terkena sinar matahri kembali.
Pengolahan tanah tahap ketiga dilakuakn seminggu barikutnya, tanah dicangkul atau dibajak unutk membalik kembali tanah yang berada di lapisan dalam(bawah).  Pada tahap ini sekaligus dapat dilakuakn pemupukan dasar dan pengapuran (bila perlu). Pemupukan dasar dilakukan dengan menggunakan pupuk kandang yang telah matang agar tidak menghambat pertumbuhan tanaman. Pupuk kandang yang belum matang masih mengeluarkan eneegi panas sampai 75 derajat celcius akibat proses penguraian dan pembusukan masih berlangsung, sehingga dapat menyebabkan kematian tanaman. Di samping itu, pupuk kandang yang belum matang biasanya masih mengandung bibit-bibit penyakit.
Kematangan pupuk kandang terlihat dari struktur dan tingkat kebasahannya. Pupuk kandang yang telah matang memiliki struktur yang remah dan tidak basah namun juga tidak terlalu kering. Pupuk kandang sangat baik digunakan sebagai pupuk dasar karena dapat berfungsi untuk memperbaiki struktur tanah (memperbaiki daya ikat tanah), memperkaya bahan organik tanah, dan dapat menahan air tanah.
Dosis pemberian pupuk kandang adalah 15-20 ton/ha. Setelah pemberian pupuk kandang tanah dibiarkan selama tujuh hari agar terjadi reaksi antara tanah, pupuk kandang, dan kapur. Satu mnggu kemudian dilakukan pengolahan tanah lagi. Tanah dicangkul secara ringan, sekaligus dilakukan pembentukan bedengan-bedengan dan parit-parit.
Pemupukan dasar juga dapat menggunakan pupuk organik Super TW plus sebanyak 3,5 ton/ha atau Harmony BS-1 dan harmony P-1 dengan dosis 8 liter/ha. Pupuk Harmony BS-1 dan Harmony P-1 dilarutkan ke dalam 4.000 liter air,kemudian disiramkan pada bedengan.
Bedengan dibuat dengan lebar 120 cm, tinggi 40 cm, dan panjang 10 m atau disesuaikan dengan kondisi lahan; sedangkan parit dibuat dengan lebar 40 cm dan kedalaman 40 cm-50 cm. Bedengan harus membujur ke arah timur barat agar cahaya matahari dapat diterima oleh seluruh tanaman secara merata. Di sekililing bedengan dibuat saluran pembuangan air, berukuran lebar 60 cm dan kedalaman 60 cm. Karena di lahan kering/tegalan pada umunya tidak memiliki irigasi teknis maka pembuatan parit lebih ditujukan untuk menanggulangi banjir atau genangan air pada saat hujan.
Setelah  pembuatan bedengan dan parit, tanah dibiarkan lagi selama satu minggu, kemudian digemburkan dengan dicangkul tipis-tipis. Selanjutnya, tanah telah siap untuk ditanami.
Pengolahan tanah secara intensif akan menciptakan media tanam yang baik karena akan meningkatkan peredaran udara (oksigen) dalam tanah, tata air, penguraian bahan organik tanah, dan aktifitas biologis tanah yanag menguraikan bahan organik tanah menjadi bahan yang tersedia bagi tanaman. Pengolahan tanah secara intensif juga dapat menghilangkan gas-gas beracun dala tanah, memberantas gulma, memelihara kesuburan tanah, dana memudahkan pemeliharaan tanaman di kebun.

II. Pengapuran Tanah
Pengapuran tanah dilakukan jika nilai keasaman (pH) tanah kurang dari 5,5. Kegiatan ini dilakukan dua minggu sebelum tanam, mengingat pada umumnya akar tanaman tidak tahan terhadap pengapuran secara langsung setelah penanaman.
Sebelum dilakukan pengapuran, dilakukan pengukuran pH tanah terlebih dahulu. Adapun cara pengukuran pH tanah adalah sebagai berikut.
a.  dambil sampel tanah secara acak dan merata pada petak kebun.
b. semua sampel tanah yang telah diambil dicampur hingga merat, kemudian diambil sampel lagi kira-kira satu cangkul.
c. sampel disukkan ke dalam ember yang berisi air dan dibarkan hingga mengendap.
d. air Dipisahkan dari endapan tanah ke dalam ember lain dan diukur pHnya dengan menggunakan kertas lakmus atau pH meter. Nilai pH tersebut menunjukkan derajat keasaman tanah atau pH tanah.
(Anonymous.2012)
Penanaman Wijen di Lahan Basah/Sawah
Tanaman wijen juga dapat ditanam di lahan basah atau sawah. Persiapan yang perlu dilakukan sama dengan penanaman yang dilakukan di lahan kering atau tegalan, yaitu meliputi pengolahan tanah, penentuan saat tanam, dan penanaman.
I. Pengolahan tanah
Pengolahan tanah bekas penanaman padi dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a. mula-mula, dilakuakn pengatusan atau pengeringan lahan terlebih dahulu, dengan membuat parit mengelilingi lahan untuk mengeluarkan air dari lahan tersebut.
b. dilakukan pengolahan tanah. Tanah dibajak sedalam 40-60 cm dengan menggunakan traktr atau alat bajak yan ditarik sapi atau kerbau ataupun cangkul.
c. tanah dibiarkan selama satu minggu untuk membunuh kuman-kuman penyakit yang adadi dalamnya dan agar terjadi proses oksidasi gas-gas beracun (penguapan gas-gas beracun dalam tanah).
d. dilakuakan pengolahan tanah tahap kedua, yakni penyisihan tanah untuk memecah dan menghaluskan gumpalan-gumpalan tanah hasil pembajakan. Tanah dicangkul tipis-tipis hingga memperoleh struktur tanah yang gembur dan halus, sekaligus diratakan.
e. tanah dibiarkan lagi selama satu minggu terangin-anginkan dan terkena sinar matahari. Pada tahap ini juga dapat dilakukan pengapuran tanah, terutam bila nilai pH tanah kurang dari 5,5.
f. tanah digemburkan lagi dengan cangkul sedalam 40 cm, sekaligus dilakukan pembentukan bedengan dan parit-parit.  Bedengan dibuat membujur dari timur ke barat, berukuran lebar 120 cm, tinggi 40 cm, dan panjang 10 m atau disesuaikan dengan kondisi lahan. Jika penanaman wijen dilakukan pada musim hujan, bedengan dibuat lebih tinggi,
g. penyiangan dan pembumbunan
Lingkungan yang bersih dari tumbuhan lain, misalnya gulma atau rerumputan, akan lebih menjamin pertumbuhan tanaman. Tumbuhan lain dapat mengganggu kehidupan dan pertumbuhan tanaman pokok (wijen) karena merupakan pesaing dalam penggunaan zat-zat                                                                                         (Mardjono, R. dan Suprijono, 2005)

Pola Tanam
Tanaman wijen dapat ditanam pada lahan sawah maupun lahan kering. Pada lahan sawah umumnya ditanam pada musim kemarau. Oleh karena itu pada awal pertumbuhannya  membutuhkan  pengairan yang cukup sampai dengan pengisian polong (umur 60-70 hari), tetapi pengairan tersebut tidak boleh sampai menggenang. Di lahan kering wijen umumnya ditanam pada musim penghujan. Tanaman wijen selain ditanam monokultur  juga dapat ditumpangsarikan dengan tanaman semusim lain seperti padi gogo, jagung, kacang-kacangan, jarak, dll. Adanya tanaman wijen dalam pola tanam juga bermanfaat untuk menekan nematoda.( Mardjono, R. dan Suprijono, 2005)
Penanaman
Jarak tanam bervariasi (10-25) cm x (30-75) cm, tergantung dari varietas tanaman. Varietas genjah lebih rapat dibanding varietas dalam, begitu pula semakin sedikit percabangannya ditanam semakin rapat. Penanaman dengan tugal sedalam 2-4 cm, tiap lubang tanam diisi 5 biji, bila disebar keperluan benih dapat mencapai 4 kali lipat. Untuk memudahkan penanaman biji dicampur dengan abu atau pasir halus.( Mardjono, R. dan Suprijono, 2005)
Pemupukan
Dosis pupuk 100 kg Urea per hektar.  Sepertiga dosis diberikan bersamaan dengan tanam, sisanya diberikan pada umur 4-5 minggu setelah tanam. Pemberian dapat dilakukan dengan cara ditugal sedalam 5-7,5 cm dengan jarak 5 cm dari lubang tanam. Pupuk Urea yang telah diletakkan dalam lubang harus ditutup. Pupuk P dan K dapat ditambahkan bila daerah tersebut diketahui memerlukan hara tersebut.( Mardjono, R. dan Suprijono, 2005)
Pemeliharan
Penyulaman dilakukan 6 hari setelah tanam. Tanaman wijen mudah hidup bila dipindah, sehingga memungkinkan menggunakan bahan tanaman untuk menyulam dari lubang tanam lain yang tumbuh lebih dari dua tanaman. Untuk sistem ini sebaiknya penyulaman dilaksanakan 15-20 HST. Penjarangan dilakukan 15-20 HST, sehingga tinggal 2 tanaman per lubang tanam. Penyiangan dilakukan bila gulma telah mengganggu dan diupayakan sampai dengan umur 40 HST bebas dari gangguan gulma. Sambil menyiang tanaman dibumbun. Diupayakan agar pertananam tidak tergenag walaupun sehabis hujan, berarti drainase harus baik.( Mardjono, R. dan Suprijono, 2005)
Pengendalian Hama dan Penyakit
Gangguan hama dan penyakit pada tanaman merupan salah satu kendala yang cukup pelik dalam usaha pertanian. Ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan, setiap ada tanaman yang tumbuh, hama dan penyakit selalu menyertainya. Keberadaan hama dan penyakit merupakan faktor yang menghambat pertumbuhan tanaman dan pembentukan hasil. Serangannya pada tanaman dapat datang secara mendadak dan dapat bersifat ekplosif (meluas) sehingga dalam waktu yang relatif singkat sering kali dapat mematikan seluruh tanaman dan menggagalkan panen.
Pemberantasan hama dan penyakit secara total tidak mungkin dapat dilakukan karena perkembangannya yang sangat cepat dan sulit dikontrol. Namun, dengan pengamatan yang baik di lapangan sejak awal penanaman sampai panen, serangan hama dan penyakit dapat ditekan.
Hama adalah binatang yang dianggap dapat mengganggu atau merusak tanaman dengan memakan bagian tanaman yang disukainya. Misalnya; serangga (insekta), cacing (neatoda), binatang menyusui, dan lain-lain. Penyakit yang menyerang tanaman bukan disebabkan oleh binatang, melainkan oleh makhuk mikroskopis, misalnya bakteri, virus, cendawan(jamur), dan lain-lain.
Hama dan penyakit dapat menyerang tanaman pada bagian-bagian tertentu, misalnya daun, akar, batang, buah (polong), dan biji. Kerugian-kerugian akibat serangan yang ditimbulkan antara lain adalah sebagai berikut.
1. tanaman dapat mengalami gangguan fisiologis sehingga mengalami hambatan pertumbuhan.
2. menurunkan hasil (biji wijen), baik dalam hal kuantitas (bobot per satuan luas) maupun kualitas (mutu). Hal ini disebabkan oleh kematian bunga, pembusukan buah, pembentukan daun, dan sebagainya yang menyebabkan pembentukan bunga dan buah terhambat, serta banyak tanaman yang mati.
3. dapat menimbulkan infeksi sekunder sehingga menimbulkan kerusakan yang lebih parah
4. biaya produksi menjadi lebih besar karena harus mengeluarkan biaya untuk obat-obatan dan tenaga kerja untuk penangannya
Untuk menekan kerugian yang ditimbulkan  oleh serangan hama dan penyakit hingga sekecil mungkin, perlu diupayakan pengendalian atau pemberantasan yang tepat. Untuk mengetahui secara tepat hama dan penyakit yang menyerang tanaman diperlukan kecermatan dan ketelitian dalam menganalisis gejala yang nampak. Setiap jenis hama atau penyakit yang menyerang tanaman akan menunjukkan gejala yang berbeda-beda dan spesifik. Dengan mempelajari gejala-gejala tersebut secara baik, dapat ditemukan secara tepat penyebab kerusakan tanaman. Dengan demikian, pengendalian dapat dilakukan secara tepat sesuai dengan sasaran. Oleh karena itu, diperlukan pengetahuan yang luas tentang hama dan penyakit yang menyerang tanaman wijen serta gejala-gejalanya, dan obat-obatan yang efektif digunakan.
Kegiatan perlindungan tanaman tidak bertujuan untuk meningkatkan hasil seperti kegiatan pemupukan, pengairan, dan lain-lain, melainkan untuk mengurangi kehilangan hasil akibat serangan hama atau penyakit hingga sekecil mungkin. Perlindungan tanaman dapat dilakukan secara preventif dan kuratif.
Pengendalian secara preventif merupakan tindakan pencegahan yang dilakukan sebelum tanaman terinfeksi atau terserang hama dan penyakit. Pengendalian secara preventif dilakukan dengan menanam jenis atau varietas tanaman yang tahan atau resisten terhadap serangan beberapa hama atau penyakit, pergiliran tanaman, penanaman menurut musim, pengolahan tanah, secara baik, sistem tumpang sari, dan penyemprotan pestisida secara berkala dan teratur. Pengendalian secara preventif  sangat dianjurkankarena lebih mudah, murah dan aman.( Ibrahim, N., Soerjono, Subaidah. 1994)

Panen dan pasca panen
Panen yang tepat dilakukan bila 2/3 dari polong buah sudah berwarna hijau kekuningan. Penguningan dimulai dari polong-polong yang berkedudukan di bawah. Bila terlambat polong akan pecah, bila jatuh dan tidak lagi dapat diambil. Pemanenan yang dilakukan saat polng mulai pecah, sebaiknya menggunakan sabit bergerigi, pelan-pelan batang dipegang dan dipotong 10-15 cm di bawah kedudukan buah. Posisi batang masih tetap tegak, kemudian dibalik agar biji dalam polong yang sudah pecah jatuh ke tempat yang sudah dipersiapkan. Pada kondisi yang sangat panas dan kering proses penuaan kadang-kadang tidak begitu jelas. Polong-polong yang berwarna hijau langsung cokelat, kering, dan pecah. Batang wijen sebagai hasil panen diikat, masing-masing ikatan bergaris tengah sekitar 10-15 cm, kemudian dijemur dalam kedudukan berdiri. Dibawah tempat penjemuran diletakan tikar/tempat menampung biji wijen agar biji yang jatuh muda dikumpulkan. Bila lantai jemur ini dari plester, tidak lagi diperlukan tempat menampung.jika Nampak polong-polong sudah pecah, ikatan batang wijen dibalik yaitu ujungnya terletak dibawah sehingga biji keluar. Untuk mendorong biji keluar, batang dipukul-pukul dengan tongkat dab kalau belum semua biji dapat keluar, ikatan batang tadi dijemur ulang dengan kedudukan berdiri seperti semula dan biji dikeluarkan lagi sampai habis. Biji yang sudah keluar dari polong umumnya dijemur selama 1 hari penuh agar kandungan kadar air kurang dari 7 %
.
(sumber :  Mardjono, R. dan Suprijono, 2005)

Rabu, 25 Juni 2014

CARA MEMBUAT PUPUK HIJAU DENGAN TANAMAN OROK-OROK

Dulu sebelum pupuk-pupuk organik dalam kemasan muncul, kita mengenal yang namanya pupuk hijau.  Yaa...pupuk hijau dengan tanaman andalan adalah orok-orok. Mungkin saat ini orok-orok sudah tidak begitu dikenal lagi padahal tanaman ini punya potensi yang sangat besar.  Di zaman era pertanian organik, pupuk hijau kembali mulai dikenal lagi.
Orok-Orok biasa digunakan sebagai tanaman penutup tanah atau cover crop yang dapat membantu menyuburkan tanah.
Penggunaan pupuk kimia atau anorganik memang telah menambah daya hasil tanaman budidaya, namun terbukti dengan pemakaian dalam periode waktu yang lama bisa mengakibatkan kerusakan sifat-sifat tanah, baik karakter kimia, fisika, maupun biologi tanah.

Perubahan pola pertanian menjadi organik dan munculnya kesadaran akan pentingnya melindungi lingkungan serta keberlanjutan dalam sistem pertanian, pupuk anorganik mulai sedikit dikurangi serta berpindah pada pupuk yang memanglah dari awal telah di kenal petani.
Satu diantara pupuk organik yang telah di kenal lama yaitu pupuk hijau. yang dimaksud pupuk hijau lantaran yang digunakan untuk pupuk yaitu hijauan tanaman seperti daun, tangkai, serta batang tanaman yang tetap muda.

Orok-orok merupakan salah satu tanaman untuk pupuk hijau. Orok-orok termasuk dalam keluarga polong-polongan (Fabaceae).  yang disebut orok-orok bisa banyak jenis antara lain : Crotalaria juncea, C. lanceolata, C. ochraleuca, dan C. retusa.

Tanaman Orok-orok termasuk tanaman liat dan mudah hidup di berbagai kondisi iklim.  Tanaman orok-orok bisa tumbuh sampai meraih ketinggian 3 m, berbatang tegak, pertumbuhannya cepat, batang bercabang-cabang, berdaun tunggal berupa lonjong meruncing dengan panjang 4-10 cm, berbunga kuning dengan panjang 2, 5 cm, berbuah dalam wujud polong ukuran 3 cm serta banyak memiliki kandungan N.  Tanaman orok-orok seluas 1 ha dapat menghasilkan biomassa 15-25 ton yang dapat menaikkan nitrogen 113 N, atau setara 250 kg urea keluaran pabrik.

Pemanfaatan orok-orok sebagai pupuk hija dapat dilakukan dengan cara:
 (1) Tanaman orok-orok langsung direbahkan dan dibenamkan dalam tanah, utamanya pada tanah sawah yang pengolahan tanah menggunakan traktor.
(2) Tanaman Orok-Orok dicabut dan diletakkan pada alur-alur yang sudah disiapkan, kemudian ditimbun dengan tanah, utamanya pada tanah kering.
(3) Tanaman orok-orok dicabut, dipotong kecil-kecil, ditebarkan di seluruh lahan dan diinjak-injak.
(4) Taaman orok-orok dicabut, dihamparkan disekeliling tanaman pokok hingga membusuk, dijadikan sebagai mulsa. 


Perbanyakan orok-orok umumnya di ambil bijinya untuk di tanam. Biji orok-orok yang diambil harus dari biji yang telah tua.  Biji dijemur, dipisahkan dari kotoran, serta dimasukkan ke dalam kantong plastik.

Selasa, 24 Juni 2014

CARA BUDIDAYA AKAR WANGI (RUMPUT VETIVER) YANG CUKUP MENJANJIKAN

Akar wangi (Vetiveria zizanioides) merupakan jenis tanaman dengan bentuk rerumputan yang dikenal mampu menghasilkan minyak atsiri dari akarnya, makanya namanya akar wangi.  Penampakan fisiknya menyerupai rumput atau tanaman serai karena tumbuhan ini memang masih sekeluarga dengan serai atau alang-alang.  Akar wangi mempunyai perakaran yang dalam dan sangat kuat sehingga biasa digunakan sebagai tanaman penahan longsor pada daerah lereng bukit yang miring seperti di pinggir jalan yang terletak di tebing yang dipotong seperti gambar dibawah ini.
Akar wangi sebagai penahan longsor pada daerah lereng bukit

Kalau kita ke Jogja dengan mudah kita bisa jumpai kerajinan dari akar wangi.  Selain sebagai bahan kerajinan, Akar dari tanaman Akar Wangi secara tradisional dikenal sebagai pengharum lemari penyimpan pakaian atau barang-barang penting, seperti batik, baju, keris dan juga bahan pembuatan kerajinan yang cukup unik seperti tas, Kap kampu, dan Alas meja.  

Akar tanaman ini juga dapat diproses dengan penyulingan untuk menghasilkan minyak atsiri.  Minyak atsiri ini dapat digunakan sebagai bahan kosmetik seperti untuk parfum, obat-obatan, dan aroma terapi. Hasil penyulingan akar wangi dalam bentuk minyak atsiri ini juga merupakan salah satu komoditas ekspor yang sangat menjanjikan.  Indonesia merupakan eksportir minyak akar wangi terbesar ke dua setelah Haiti. Peluang pasar untuk minyak atsiri dari akar wangi ini masih terbuka lebar mengingat posisi Indonesia hanya mampu memenuhi permintaan minyak akar wangi di dunia sebesar 50 ton/tahun dari total permintaan dunia sebesar 300 ton/tahun.   Kebutuhan dunia akan akar wangi selalu meningkat tiap tahunnya. 

Habitat Akar Wangi
Akar wangi adalah salah satu tanaman liar yang sengaja ditanam diberbagai negara beriklim tropis dan sub tropis. Tanaman akar wangi termasuk keluarga graminae, berumpun lebat, akar tinggal bercabang banyak dan berwarna kuning pucat dan abu-abu sampai merah tua. Rumpun tanaman akar wangi terdiri atas beberapa anak rumpun yang dapat dijadikan bibit. Dari akar tinggal yang halus tersebut akan tumbuh tangkai daun yang panjangnya mencapai sekitar 1,5 - 2 meter.Daunnya sedikit kaku, berwarna hijau sampai kelabu dengan panjang daun 75-100 cm dan tidak mengandung minyak. Tanaman ini berbunga dengan warna hijau atau ungu dan berada di pucuk tangkai daun.
Nama akar wangi di beberapa daerah berbeda yaitu:
Sumatera : Gayo dengan nama useur; Batak dengan nama hapias, usar, Minangkabau dengan nama urek usa.
Jawa : Sunda dengan nama janur, narwastu, usar; Jawa tengah dengan nama larasetu, larawastu; Madura dengan nama karabistu, lorowistu
Nusa Tenggara: Roti dengan nama nausina fuik
Sulawesi : Gorontalo dengan nama tahele; Buol dengan nama akadu; Bugis dengaan nama narawasatu, sare ambong
Maluku : Halmahera dengan nama babuwamendi; Ternate dengan nama garamkusu batawi; Tidore dengan nama barama kusu batai.


Persyaratan tumbuh
Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan kualitas minyak akar wangi antara lain keadaan tanah dan iklim.
Keadaan tanah, tanah akar wangi cocok tumbuh ditanah yang berpasir (antosol) atau tanah abu vulkanik di lereng-lereng bukit. Pada tanah tersebut pertumbuhan akar wangi akan lebat dan panjang dan akar mudah dicabut. Tanaman akar wangi juga bisa tumbuh di tanah-tanah liat yang banyak mengandung air, namun pertumbuhan perakaran kurang bagus sehingga produksi minyaknya tidak maksimal. Akar wangi memerlukan derajat keasaman tanah (pH) sekitar 6-7, pada tanah yang terlalu masam (pH dibawah 5,5) akan menyebabkan tanaman kerdil. Tapi bila tanah terlalu basa menyebabkan garam Mangan (Mn) tidak terserap sehingga bentuk akarnya kurus dan kecil.
Iklim, tanaman akar wangi dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian sekitar 300 - 2.000 meter diatas permukaan laut dan akan berproduksi dengan baik pada ketinggian 600 - 1.500 meter diatas permukaan laut. Tanaman akar wangi memerlukan curah hujan yang cukup yaitu sekitar 140 hari per tahun, sedang suhu yang cocok untuk pertumbuhan tanaman sekitar 17-27 derajat Celcius. Akar wangi menyukai sinar matahari langsung, bila ditanam ditempat yang teduh akan berpengaruh terhadap sistem pertumbuhan akar dan mutu minyaknya.

Teknologi Budidaya Akar Wangi :
Penyiapan Lahan dan Penanaman
Lahan untuk pertanaman akar wangi hendaknya bersih dari gulma. Jika sudah bersih, tanah dibuat lubang tanam (20x20x20)cm. Jarak tanam tergantung kesuburan dan kemiringan tanah. Pada kemiringan 15-30%, jarak tanam berkisar antara (60×20)-(50×100)cm. Dua minggu sebelum tanam, lubnag diisi pupuk kandang/kompos sebanyak 2 kg/lubang. Kedalaman tanam tidak lebih dari 4 cm, karena akan mengurangi persentse tumbuh tanaman.

PemeliharaanPenyulaman
Penyulaman dilakukan paling lambat 2 minggu setelah tanam. Tanaman yang tidak tumbuh biasanya terlihat pad umur 1-2 minggu setelah tanam, terutama bila ditanam berupa bibit sobekan dari bonggol yang ditanam langsung atau anakan tanpa akar.
Khususnya di Indonesia, akar wangi yang baru dipanen, harus di cuci di sungai atau dipancuran, kemudian dijemur langsung dibawah sinar matahari atau diangin-anginkan pada tempat yang agak teduh. Bila ditujukan pada ekspor, maka akar kering dipres dan diikat sehingga berbentuk bundel dan berat setiap bundel sekitar 100 kg, kemudian dikemas dalam keranjang. Petani penanam menjual akar wangi trsebut kepada pedagang perantara, untuk selanjutnya dijual ke pabrik penyulingan atau eksportir yang berada di Jakarta dan Surabaya.

Penyiraman
Pada musim kemarau, penyiraman diperlukan setiap hari selama 2 minggu, sampai akar-akar baru tumbuh dan menempel ke tanah.

Pemupukan
Petani di Garut umumnya tidak melakukan pemupukan pada tanamannya, kecuali jika ditumpangsarikan dengan sayuran.

Pemangkasan
Sama halnya dengan pemupukan, pemangkasan biasanya dilakukan pada tanaman yang ditumpangsarikan dengan tanaman sayuran.
Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman
Hama dan penyakit pada akar wangi belum menjadi masalah yang penting, sehingga pengendaliannya jarang dilakukan.
Penanganan Pasca Panen :
Waktu pemanenan tergantung pada musim. Bila areal yang sama akan ditanami kembali, maka pemanenan harus dilakukan pada musim hujan, agar dapat tumbuh dengan baik. Akar wangi yang diperoleh dari petani berupa akar kering panen yang masih mengandung bonggol dan tanah yang menempel. Sebelum penyulingan, biasanya akar wangi dikeringkan dan dibersihkan terlebih dahulu untuk meningkatkan rendemen dan mutu minyak akar wangi yang dihasilkan.
Pemotongan Bonggol
Bonggol dapat dipotong dengan alat pemotong secara manual dengan golok atau dengan menggunakan mesin pemotong (perajang).

Pencucian Akar
Akar tanpa bonggol dicuci dalam air (dalam air mengalir) sambil dikibaskan/dikeprik sampai semua tanah yang menempel terlepas dari akar. Air yang menempel pada akar juga dikibaskan atau ditiriskan hingga siap dijemur.

Penjemuran Akar
Pengeringan dilakukan di atas lantai penjemur yang diberi alas tikar, atau bambu anyam dengan ketebalan 20-30 cm. Penjemuran dilakukan dari jam 09.00-14.00 dan dibolak-balik sebanyak 2-3 kali selama kurang lebih 2 hari. Penjemuran telah selesai jika menghasilkan akar wangi kering dengan kadar air 15%.Pengeringan akar membutuhkan waktu lebih singkat sehingga kemungkinan minyak yang menguap selama penjemuran lebih kecil.

Penyimpanan
Jika tidak segera disuling, akar wangi dikemas dalam karung plastik dan ditutup rapat, kemudian disimpan dengan cara ditumpuk dalam gudang yang tidak tembus cahaya matahari, tidak lembab, suhu 20-30oC, dan letaknya jauh dari ketel suling. Tujuannya adalah untuk mengurangi penguapan minyak selama penyimpanan.

Perajangan Akar
Tujuan perajangan akar adalah untuk mengurangi sifat kamba akar, mempermudah keluarnya minyak dari dalam akar melalui proses hidrodifusi. Merajang dapat dilakukan dengan golok atau dengan mesin khusus perajang akar, dengan panjang sekitar 10-15 cm.
Akar setelah dirajang harus segera dimasukkan ke dalam ketel suling untuk menghindari penguapan minyak dari bagian akar yang dipotong.

Manfaat menanam akar wangi
Selain bernilai ekonomis, tanaman akar wangi dapat berfungsi sebagai usaha konservasi tanah dan air karena kelebatan akarnya mencapai lebih dari100 cm. Maka akar wangi dapat ditanam di pematang-pematang sawah untuk menghindari atau mengendalikan kerusakan pematang sawah. Selain itu akar wangi dapat melindungi lahan terasering, melindungi lahan sekitar jembatan dan sekitar dam.